Rabu, 24 Februari 2021

Transformasi diri

Bismillahirrahmanirrahim

Saat ini sudah hampir 2 tahun saya berpindah profesi menjadi Ibu yang bekerja di ranah domestik,  bagaimana yaaa saya menjalani masa-masa transisi dari yang biasa 07-18 berada diluar rumah menjadi full berada dirumah membersamai anak-anak.

Awalnya, waahh sangat bahagia dan semangat menjalani hari-hari yang memang sudah diimpikan selama 7 tahun berekerja di ranah publik.

Tapi ternyata, itu hanya bertahan sekitar 6 bulan di awal, semangat dan rasa bahagia pun mulai ada penurunan. Hingga akhirnya , setelah menjalani 1 tahun berada dirumah, tiba-tiba saya merasa exhausted, jenuh dan bosan dirumah dengan aktivitas yang sama dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Dampaknya? tentu saya mulai uring-uringan, lebih mudah emosi dan cepat lelah.

Penyakit langganan ketika bekerja pun kambuh, dan ini jadi indikasi kalau saya mulai dilanda stress.

Daan, sayapun terbersit keinginan untuk bekerja kembali :-)

Dikomunikasikanlah keinginan tersebut kepada Pak Suami, dan jawabnya "Terserah kalau memang itu bisa membuat Ummi bahagia lagi, tapi coba lihat apa tega ninggalin anak-anak lagi?" 

Tidak tega pasti, kalaupun ditanya anak-anak , apakah boleh Ummi bekerja kembali, langsung akan di jawab spontan "GA BOLEH!"

Allah memberikan petunjuk, ketika ikut sharing di WAG tentang talent mapping, saya iseng bertanya saya jenuh di rumah, saya terbersit kembali bekerja.

Ada 2 pertanyaan narasumber saat itu:

1. Resignnya disuruh atau keinginan sendiri? jawabnya murni atas keinginan saya sendiri

2. Dari hasil talent mapping, apakah urutan bakat responsibility, disiplin dan learner ada di urutan teratas? ternyata, benar 3 urutan bakat tersebut ada di 3 urutan teratas.

Jadi, menurut narsum nya, wajar kalau saya bosan dan jenuh, karena selama menjalani peran di rumah saya merasa peran saya tidak ada tanggungjawabnya, padahal yaaa kan anak-anak itu adalah amanah yang pertanggungjawabannya sama Allah SWT langsung.

Disarankan, saya menjalankan peran saya sebagai Ibu selayaknya saya berada ketika saya bekerja, ada target, progress yang harus dilaporkan dan juga ada rewardnya :-)

Dan akhirnya, sayapun merombak pola pikir saya, dan berikut adalah tips-tips yang saya coba jalankan agar saya bahagia menjalani peran saya di rumah.

1. Menetapkan jam kerja yang seperti ketika saya berkerja, sehingga selama kurun waktu bekerja saya akan fokus dengan pekerjaan saya yaitu membersamai anak-anak. Dan , enaknya saya ada waktu tidur siang loh, istirahatnya jadi 2 jam , enak kan? 

2. Berpakaian rapi selayaknya ketika bekerja, jadi tidak pakai daster (walau ini pakaian paling nyaman sedunia kan:-) )

3. Selayaknya di perusahaan, saya pun mencoba menyusun Performance Objective sebagai target yang harus dicapai , dan akan di review setiap 3 bulan sekali.

Apakah setelah menjalani hal-hal diatas saya ga uring-uringan lagi? ternyata masih, karena saya merasa saya mengerjakan semua hal nya sendiri . Akhirnya ternyata saya sadar bahwa selama ini saya merasa saya adalah SUPER MOM, saya kerjakan semuanya sendiri, sehingga sayapun lupa dengan kebahagiaan saya sendiri.

Pentingnya adalah kita mengisi full tangki kebahagiaan kita baru kita bisa memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekeliling kita.

Bekerjasama dengan suami untuk menciptakan support sistem yang baik

Menurunkan standard ekspektasi kita, biarkanlah sesekali rumah berantakan, kalau capek ga masakpun gpp, bisa beli, sesekali nonton drama korea kalau bisa bikin penat hilang juga ga papa.

Dan, alhamdulillah sayapun makin bahagia dirumah, bersama anak-anak menjalani keseharian, tetap belajar bersama komunitas IIP , sayapun ga kalah sibuk dengan pada saat saya masih bekerja, lebih sibuk kayaknya malahan ya :-)




Senin, 22 Februari 2021

Jurnal Pekan 15 # Zona Open Spacr

Bismillahirrahmanirrahim

Pekan ketiga masih tetap jadi participan.

Banyak belajar dari teman-teman, dan mulai memberikan inoutan positif oada diri untuk berani "speak up" . 

Dulu pada saat kerja pun, kurang berani untuk speak up di kalangan atas, karena merasa tidak bisa basa basi, dan pekerjaan yang sudah dilakukan tidak perlu untuk digembor-gemborkan.

Tapi, mindset ini termyata memang harus diubah, bukan berarti kita do nothing tapi speak up nya sudah melakukan ini itu.

Yang harus dipupuk adalah, sharing apa adanya dengan apa yang telah kita lakukan, kita tidaknpernah tahu bahwa apa yang kita lakukan dan kita menganggap itu biasa saja, iti bisa menginspirasi banyak orang.

Menilik kembali tentang tujuan penciptaan manusia, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sekitarnya.

Jika kita pernah mengalami suatuntamtamgan, boleh jadi oramg lain punya tantangan yang sama, dan kenapa tidak kita bagikan pengalaman kita yang sudah berhasil menaklukan tamtangan tersebut. 
Tidak ada yang tahu, kalau termyata ada yang butuh .

Senin, 15 Februari 2021

Jurnal Hexagonia Pekan 14 #Zona Open Space

 Bismillahirrahmanirrahim.....


Dipekan kedua ini , saya masih belum bisa move on untuk berperan sebagai bumble bee :-(

Sedih memang, sampai kadang sebelum tidur selalu menguatkan hati, tapi memang saat ini prioritas masih di keluarga, mengingat adek masih setiap 2 hari sekali terapi akupuntur dengan jarak yang menguras tenaga juga keadaan uyut yang semakin memburuk.

Dan, masya allah bangga dengan teman-teman mahasiswi bunda produktif yang sudah berkontribusi berbagi ilmu yang semuanya "daging" ga ada yang receh.

Dipekan ini , saya mengikuti beberapa live temen-temen, seperti 

1. Nuni (Hilangkan Cemas No More Overthinking)

2.  Mba Tyas  ( Aquaphonik) , 

3. Mba Itha (Memilih Peralatan dengan Ilmu Procurement), 

4. Mba Iqiq (Filosofi Montessori) 

dan juga beberapa live temen-teman lainnya yang tidak sampai selesai.



Senin, 08 Februari 2021

Jurnal Hexagonia Pekan 13#Zona Open Space

 Bismillahirrahmanirrahim....

Dipekan ini kami belajar tentang bagaimana caranya untuk menjalankan hexa conference  dengan metode Open Space.

Di metode ini kami meninggalkan Traditional Conference yang masih terstruktur dengan adanya EO (Even Organizer), mencari pembicara dengan undangan dan proposal, mencari pembicara dengan call for paper dan juga ada pembicara dan juga peserta. 

Metode yang dibilang traditional ini memang masih mendominasi untuk berbagai conference yang ada di Indonesia.

Dan, dipekan ini Ibu Septi mengenalkan kita dengan metode Open Space dimana semua peserta adalah sama, keduanya adalah knower dan learner, dimana setiap orang adalah speaker atau pembicara, kita menyiapkan sendiri program apa yang akan kita pili berikut dengan waktunya.

Setiap peserta harus mempunya Passion dan Responsibility karena "Without responsibility nothing will get done"

Bu Septi juga mengajarkan tentang The Law of Two Feet , dimana if you find yourself in a situation where  you are not contributing or learning , move somewhere you can.

Dari sini lah, saya dapat insight bahwa sudah saat nya saya berkontibusi dan keluar dari zona nyaman.

Namun, karena minggu ini kami sekeluarga sedang fokus dengan pengobatan adek, akhirnya saya pun memutuskan untuk pekan ini mengambil rolos as a Bumble Bee, dimana saya akan bebelanja ide dari berbagai workshop yang ada.




Senin, 01 Februari 2021

Jurnal Hexagonia Pekan 12# Berfikir dengan 6 Topi

Bismillahirrahmanirrahim...


Pekan ini kami seperti mengevaluasi, imorove langkah-lagkah kami dalam menjalankan project passion agar makin melesat....


Dengan menggunakan 6 topi berfikir, kami berfikir dan mengambil langkah secara lebih terstruktur dan tersistematis.


Dan inilah langkah2 yang kami putuskan untuk dijalankan diantara semua solusi terbaik yang muncul, dan tingkat resiko yang oaling rendah.


#HexagonCity
#Hexagonia
#ZonaG
#PerkuliahanBundaProduktif
#InstitutIbuProfesional


Konferensi Ibu Pembaharu

Bismillahirrahmanirrahim... Berterimakasih sekali kepada panitia KIP yang sudah menyelenggarakan acara yang super duper keren, betapa kalian...