Kamis, 29 April 2021

Menanamkan Karakter Kemandirian pada Anak

Bismillahirrahmanirrahim.....


Apa kabar semua bunda-bunda, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT yaa....

Kali ini insya allah, Ummi Array akan mencoba meresume kan kajian yang diikuti di Ta'lim As Sunnah bersama Kak Erlan Iskandar dan tim nya... 

Dan yang dibahas adalah tentang kemandirian pada anak.

Bagaimana ya kemandirian itu?

Kita ini termasuk sudah mandiri belum?

Nah, ternyata ada hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan bahwa hal tersebut  adalah bentuk ketidakmandirian seperti, tidak tuntas ketika melakukan suatu pekerjaan, suka menunda-nunda hal penting dan juga suka marah-marah.

Ternyata indikator nya cukup simple ya?

Kemandirian pada anak dimulai dari kedekatan dan kelekatan dengan orang tua, komunikasi yang baik akan menentukan tingkat kemandirian pada anak, dan ayah membawa peran yang sanagat penting pada tahapan ini karena terkait dengan kedisiplinan.

Sifat tidak mandiri ini akan membawa dampak anak menjadi suka tergantung tidak punya pendirian, insecure dan selalu ikut-ikutan agar dia diterima di lingkungannya, suka lama jika memutuskan sesuatu hal. Anak-anak yang tidak mandiri pun akan sangat butuh pengakuan dari lingkungan sekitar, bahwa mereka ingin dianggap ada, bahkan mereka ini cenderung tidak kreatif dan tidak inisiatif juga manja dan putus asa.

Hal ini berbeda dengan anak yang percaya diri, anak yang percaya diri akan yakin dengan dirinya dan mampu mengatasi apa masalah yang ada dihadapannya.

Oleh karena nya, janganlah kita “blocking” terhadap kreatifitas anak-anak, fasilitasi lah karena sejatinya ketika anak-anak mempunyai minat terhadap sesuatu berarti anak-anak ini sedang mengeksplore kemampuan dirinya untuk mandiri.

Hingga nanti suatu saat ketika perkembangan sudah optimal, kita sebagai orang tua diperbolehkan untuk mengobservasi dan kemudian mengikat beberapa cabang minat agar anak menjadi fokus, dalam hal ini orag tua berfungsi sebagai fasilitator anak untuk menentukan apa potensinya

Saat ini mari kita bahas dampak dari ketidakmandirian anak-anak yang biasanya terlihat pada anak-anak yang kemandiriannya belum terbentuk. Biasanya anak-anak ini mempunyai kecenderungan gangguan kenalakan remasak, suka sekali menentang orangtua, guru, mengganggu teman-teman disekolah, emosinya pun tidak stabil, cenderung mudah marah, mudah sedih dan juga mudah tersinggung, daya tahan anakpun menjadi lemah.

·   Nah untuk memupuk faktor kemandirian ini, kita sebagai orangtua bisa melakukan hal-hal dibawah:

  • Cinta dan kepercayaan sebagai bentuk dari kelekatan orang tua dan anak
  • Komunikasi efektif dari orang tua – anak
  • Apresiasi, ingat apresiasi ini tidak hanya jika anak berprestasi, tanpa      prestasipun harus diapresiasi dalam bentuk motivasi dan semangat.            Jangan lupa setiap aprresiasi di sandarkan dan dikembalikanlagi ke Allah, agar anak tidak sombong.
  • Tujuan / target dengan memberikan pijakan yang kokoh tentang kemandimandiri·         
  • Memupuk skill anak dengan menstimulasi keterampilan anak
  • Sounding dan help, dimana ada kalanya orang tua berperan sebagai motivator agar anak mau berusaha dengan usahanya sendiri, namun jika sudah berusaha dan masih kesulitan  kita bisa membantunya sedikit demi sedikit.

Ciri-ciri anak yang mandiri adalah sebagai berikut:

1. Kreatif dan exploratif , sehingga anak bebas bergerak

2. Emosinya lebih stabil dan tenang, dimana kualitas pengendalian dirinya seimbang dan mudah untuk kembali ke kondisi normal

3.  Mempunyai harga diri percaya diri sehingga berani untuk menunjukkan dirinya dan menyampaikan apa pendapatnya

4. Disipin, konsisten dan teratur

5. Bertanggungjawab dan tuntas jika mengerjakan sesuatu

6. Pergaulannya luas dan mudah berteman, sehingga mudah berbagi , kolaborasi , respek dan menghargai orang lain.

Teknik membangun kemandirian anak adalah dimulai dengan TRUST pada usia 0-6 tahun, dimana kesempatan dan kepercayaan yang dibangun, dahulukan cinta dahulu baru kepercayaan (cinta, sabar, dan kepercayaan), sounding , selalu mengarahkan dan tidak letih mendoakan. Kemudian diikuti denga ALWAYS LISTEN FIRST, dengarkan lah apa sebenernya apa yang diinginkan anak, karena apa yang kita lihat bisa jadi bukan apa yang dimaksud oleh anak, sehingga keterampilan anak untuk berkomunikasi pun akan terasah. Dan yang terakahir adalah TARGET-APRESIASI-SOUNDING, kenapa? karena jangan sampai keluarga yang saat ini kita bina ini hidupkan mengalir begitu saja, kita hars buat peraturan di rumah, tujuan keluarga kita sehingga kita akan menjadi semakin teratah mau dibawa kemana kapal kita berlayar bersama. 

Dan hal ini akan semakin mengasah anak-anak menjadi pribadi tangguh untuk menjadi penerus peradaban muslim di dunia. 

Aamiin ya rabbal alamin...


Semoga bermanfaaat, tetap semangat dan selalu memohon pertolongan Allah SWT, aaamiinn.....

·    

 

·         

·         

Mengajarkan Anak tentang Puasa


Bismillahirrahmanirrahim....


Alhamdulillah, pas banget dapat kajian tentang puasa, disaat bulan Ramadhan ini, sebagai orangtua tentunya kita sudah akan mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut bulan Ramadhan ini. Salah satunya adalah memperkenalkan ibadah puasa kepada ananda di rumah. 

Agar puasa menjadi ibadah yang menyenangkan maka banyak sekali yang bisa kita lakukan, mulai dari sounding sebelum bulan ramadhan, bersama-sama menyiapkan diri dan juga lingkungan dengan nuansa ramadhan  seperti selayaknya kita menyambut bulan Ramadhan dan lain-lain. 

Namun, ternyata ada hal dasar yang harus kita pelajari tentang karakteristik anak-anak kita untuk menyiapkan menjalankan ibadah puasa ini . 

Apa saja kah itu? berikut adalah resume dari Kajian Bersama Kak Erlan Iskandar di Ta'lim As Sunnah  

Puasa itu adalah ibadah fisik , sehingga patokan kapan anak mulai puas tergantung oleh kemampuan fisiknya (untuk hal ini orangtua yang paling memahaminya)

 

Dari sisi ilmu gizi, pernah dijelaskan jika anak dibawh umur 7 tahun itu masih rentan terhadap hipoglikemia, namun kembali lagi bagaimana kondisi fisik anak, bagaimana orang tua mensiasatinya.

 

Kunci dalam mengajarkan anak puasa adalah pertolongan orang tua dan juga kesungguhan dari orangtua, karena segala kemudahan kita sebagai orang tua untuk mendidik anak datangnya dari Allah SWT. Dan yang perlu diingat bahwa, mendidik anak itu tidak mendadak, karena yang mendadak itu tidak mendidik.

 

Dalam mengajarkan anak puasa kita perlu mempersiapkan waktu yang bertahap untuk mengenalkan tentang value atau nilai dari ibadah puasa, sehingga nantinya akan memudahkan kita pada saat sounding atau recall. Kenapa penting? Ya karena hal ini untuk menghindari anak merasa dicurangi, karena perlakuan orantua akan termemori dan membuat anak termotivasi dengan puasa. Jangan sungkan untu memberikan reward, dan juga lihat kondisi anak, jika lemas tak apa berbuka. Namun perlu untuk dikonfirmasi, niat  ingin berbuka apakah karena sakit atau hanya ingin? Karena sejatinya puasa adalah menahan diri dari keinginan .

 

Anak-anak dapat sealu dimotivasi bahwa jika anak-anak melakukan amal perbuatan baik akan dicatat sebagai pahala, walaupun belum baligh.

 

Permudahlah, jangan dipersulit......

Menanamkan Karakter Tolenrasi dan Sabar pada anak

Bismillahirrahmairrahim....


Marah? Orang tua mana coba yang ga pernah marah pada orang tuanya? Kalau saya kayaknya setiap hari adaaaa aja yaaa yang memancing emosi, hehhe... 

Marah itu boleh? Boleh laaah, tapi disarankan tidak dengan suara tinggu, menghardik dan ada adab nya (teorinya sih kita pasti sudah tau yaa)

Jadi ternyata, sabar ini sudah dibentuk  dari usia batita – balita.

Ada unsur tolenrasi disini, dimana tolenrasi ini adalah aspek dari sabar. Dengan tolenrasi, mampu membuat naka-anak menjadi adaptive walau dalam keadaan tertekan dan juga dalam keadaan tidak menyenangkan.

Sabar itu apa sih? Sabar itu adalah menerima secara aktif apa yang terjadi, aktif disini itu berarti ada hal yang dilakukan, tidak hanya diam saja. Karena sabar tidak sama dengan menekan atau menahan, karena  jika ditahan hal-hal dibawah alam bawah sadar ini suatu saat akan meledak.

Sehingga sabar itu berkorelasi dengan tolenrasi terhadap hal-hal yang sudah tidak dapat lagi diubah. Menerima tanpa mengeluh, tanpa marah berlebihan dan tanpa menunjuukan sikap yang buruk,

Dengan sabar, kita bisa mengbah respon kita menjadi sesuatu hal yang tidak bisa diubah menjadi hasil.

Dengan melatih sabar pada anak (tentunya dengan syarat kita sebagai orantua sudah memberikan contoh perilaku sabar loh ya) maka akan banyak sekali manfaat untuk anak kelak, seperti:

  • Melatih kemampuan kontrol diri, sehingga emosi lebih stabi;, tidak tantrum, tidak egois
  • Anak juga memiliki kemampuan problem solving, memecahkan masalah dengan mandiri dan mampu berpikir dengan bijak
  • Anakpun menjadi lebih produktif, dapat mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat dan lebih baik
  • Anak juga mempunyai daya tahan atau ressiliensi dalam menghadapi masalah saat menemui tantangan dan kesulitan

Sebagai orantua, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan anak sabar, misalkan ketika kita antri di kasir, terjebak macet, atau menunggu giliran untuk dipanggil. Disini kita bisa mengalihkan anak-anak dengan menghitung sekelilingm atau mengamati hal-hal sekitar kita dan yang lainnya.

Namun jika anak-anak mempunyai sikap yang tidak sabar, maka dampak pada anak adalah, menjadi mudah gelisah, impulsif , tidak terkendali, mudah cemas, emosional tidak stabil,  mudah sekali marah, sering tidak tuntas dalam jika diberikan tugas, sering merasa insecure dantidak terima jika orang lain lebih baik dari dirinya dan juga lemah tidak mau di kritik atau susah dinasehati,

Teknik spesial nya adalah menyandarkan pada perintah Allah dan Rasulnya, bahwa ada perintah untuk bersabar,  Allah bersama orang-orang yang sabar, Allah senang sekali dengan orang-orang yang sabar dan juga tentang Keutamaan Sabar,  sabar itu pahalanya tanpa batss, dan orang sabar di janjikan pahala surga.


Nah cara bersabarnya gimana nih? Ya berarti kita harus selalu berdoa sama Allah, menahan diri dan uga tidak ngomel-ngomel, sehingga kita bisa tahu kapan harus bersabar untuk menghadapi yakdir Allah.

 

Oh iya, ada perbedaan treatment untuk melatihkan sabar sesuai dengan tahapan anak, diaman untuk anak 0-2 tahun, anak-anak akan butuh respon cepat karena untuk menanamkan rasa kepercayaan diri (trust). Sedangkan untuk anak 2-18 tahun sudah bisa mulai membuat jeda, menjelaskan proses yang butuh waktu karena anak-anak diusia ini sduak paham akan konsep waktu.

kita sebagai orangtua boleh mengatakan "Jangan" namun harus diserta dengan penjelasan kognitif sehingga anakpun bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya.


Alhamdulillah, semoga kita bisa selalu semangat yaaa sebagai orangtua untuk menjadikan anak-anak kita bagian dari peradaban muslim di dunia ini, tetap semangat dan jangan lupa selalu minta pertolongan allah SWT, aamiinn,,,,,



semangaaattt.....


nara sumber : Kak Yogi (Ta'lim Anak As Sunnah Grup 44)

Selasa, 27 April 2021

Mengajarkan Anak Tentang Sholat

Bismillahirrahmanirrahim...

 

Hari ke-3 , kami belajar tentang bagaimana Mengajarkan Anak Sholat bersama dengan Kak Erlan di Ta'Lim As Sunnah.

Bagi saya ini adalah bahasan yang sangat krusial, mengingat sayapun sebagai orangtua masih sangat minim ilmu, jadi masya allah semoga setelah mempraktekkan ilmu dari kak Erlan, apa yang diajarkan bisa bermanfaat dan bernilai ibadah, aamiin...

Yang menjadi dasar pijakan pertama adalah firman Allah QS: At Thoha 132 yang berisika perintah tentang kewajiban kita sebagai orang tua untuk mengajarkan dan memerintahkan sholat, dimana hal ini akan butuh kesabaran yang berlebih sehingga kita wajib untuk selalu memerhatikan sholat anak-anak kita.

Dahulukan untuk selalu memperhatikan ibadah sholat anak-anak dibanding ditanya sudah makan belum? Sudah mandi belum?  #masya allah ini makjleb banget

Dan lagi-lagi , kita harus banyak-banyak berdoa kepada Allah sebagai bentuk follow up kita, karena mudahnya sholat, mudahnya beribadah adalah hidayah dan taufik dari Allah SWT.

Pijakan kedua adalah HR. Abu Dawud 

“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat mereka berusia 7 tahun dan pukullah jika mereka telah berusia 10 tahun , serta pisahkan ereka di tempat tidur mereka”

Nah, anak memang diwajibkan sholat itu ketika sudah baligh, namun kita sebagai orang tua harus mulai memerintahkan anak untuk sholat sejak usia 7 tahun sebagai pembelajaran.

Adapun tahapan persiapannya adalah sebagai berikut:

  •      0-7th     : Fase Persiapan

Fase dimana kita bangun muhabbah atau rasa cinta kepada Allah agar anak mempunyai kesadaran lebih untuk beribadah (sebagai internal motivation). Contoh yang bisa kita lakukan , sounding tentang Allah, kebaikan-kebaikan Allah, Asmaul Husna dan juga afirmasi positif. Ajari anak-anak tentang kaifiyat, syarat hukum sholat, keutamaan sholat dan apa balasan yang kita perleh ketika kita melaksanakan sholat.

  •     7-10 th  : Tamyis (Pra – Mukallaf)

Anak sudah mulai diperuntahkan, dimotivasi dan ditanamkan rasa harap kepada Allah, anak juga difasilitiasi untuk sholat. Kita mulai sampaikan keutamaan-keutamaan sholat (karena anak sudah mulai berakal (akal berkembang), bahwa sholat adalah ibdah istimewa , perintah ibadah yang langsung disampaikan kepada Rasulullah dan juga ibadah yang pertama kali dihisab.Berikan anak reward, reward ini bisa dalam bentuk doa, kalimat positif dan juga hadiah. Namun ingat, hadiah ini hanyalah motivasi eksternal, tetap ditanamkan bahwa hadiah terbaik adalah dari Allah yaitu surga kelak nanti,

  •     10 tahun ke atas

Kita harus mulai perhatikan adab anak ketika sholat, anak boleh mulai dipukul jika tidak sholat (dengan syarat dan ketentuan berlaku). Diusia ini kita sebagai orangtua mulai menggabungkan motivasi dan ancaman.

Berikut adalah tips-tips untuk mengingatkan anak sholat (ala Kak Erlan ya)

  • Perhatikan tahapan-tahapan membangun rasa cinta pada Allah
  • Kondisikan atau bangun mindset bahwa ibadah itu membuat kita bahagia, tentram dan selalu dalam penjagaan Allah dan malaikat dari perbuatan yang buruk. 
  • Tunjukkkanlah empati terlebih dahulu, misalnya jika anak sedang dalam asyik dengan kegiatannya maka janganlah kita langsung suruh anaka, melainkan kita ikut terlibat dan mengingatkan jika main ada waktunya, begitupula ibadah.
  • Jika anak sholat namun gerakan tidak sempurna (terutama untuk anak-anak 0-7th) maka janganlah langsung disalahkan dan dimarahi, namun kita terima,  afirmasi positif, baru diajarkan yang sebenernya dan juga bisa juga diberikan reward sebagai penghargaan kita atas usahanya untuk belajar tentang sholat.

Masya allah, semoga kita sama-sama bisa menjadikan segala apa yang kita ajarkan ke anak-anak sebagai ajang ibadah kita, senantiasa meminta pertolongan kepada Allah untuk memudahkan jalan kita mendidik anak-anak kita.  Aaamiiinn.....

Menumbuhkan Karakter Cinta Kepada Anak

Bismillahirrahmanirrahimm....


Tentang Cinta....

Wah, ini adalah ramuan pokok dan ajaib dalam suatu hubungan apapun, baik kepada Allah sebagai penciptanya, sebagai manusia itu sendiri atau bagi orang lain .

Bersama Kak Yogi, di Ta'lim As Sunnah, kami para orangtua belajar untuk menanamkan karakter cinta kepada anak, agar anak menjadi pribadi yang mencintai dirinya sendiri

Cinta adalah amalan hati yang diwujudkan dalam amalan lahiriah. Jika cinta di ridloi maka bernilai ibadah, jika tidak akan bernilai maksiat (Ibnu Taimiyah – Madarijus Salikin) 

Masya allah.... betapa kadang cinta juga bisa menyesatkan ternyata ya.... J

Bagaimana sih menanamkan karakter cinta kepada anak?

1. Ajarkan bagaimana mencintai dan menghargai diri sendiri, dimana hal ini sangat tergantung pada pola asuh di keluarga

2. Bagaimana interaksi , kedekatan dan kelekatan baik dengan orangtua maupun lingkungan

3. Senantiasa motivasi anak untuk percaya pada lingkungan , sehingga nantinya anak akan nyaman untuk bertemu dengan orang lain, mudah beradaptasi dan mempunyai resiliensi yang tinggi.

4. Tumbuhkan empati  pada anak, sehingga anak mampu berperilaku sesuai dengan nilai moral yang berlaku di masyarakat, tidak hanya sekedar peduli tapi tidak memperdulikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

 

Bagaimana dampak nya ketika anak tidak tumbuh dengan rasa cinta?

1. Cemas, menjadi rendah diri, dan overthinking

2. Mistrust, tidak percaya diri terhadap diri sendiri dan lingkungan

3. Depresi, sehingga akan rawan stress

 

Dunia anak-anak berbeda dengan dunia orang dewasa, dimana bahasa cinta anak-anak adalah verbal dan non verbal, sehingga tunjukkan cinta dengan persepsi/gaya anak-anak (yang paling mudah dilihat adalah ekspresi)

 

Anak-anak butuh untuk diterima dengan cinta tanpa syarat, baik ketika anak berprestasi atau tidak, dalam kondisi senang atau sedih, jika anak cinta disyaratkan, anak-anak akan tumbuh menjadi anak tanpa rasa. Anak-anak pun butuh banyak limpahan kasih sayang dan juga penghargaan.

 

Anak-anak jika dimarahin malah bukan belajar tentang kesalahannya, namun akan belajar tentang emosi yang ditunjukkan oleh orangtua.

Jika salah ingatkanlah, walau batasan tentang boleh dan tidak boleh itu tetap dan harus ada agar anak memunculkan rasa “trust” pada dirinya sendiri.

 

Masalah menumbuhkan cinta ini dimulai dari kita sebagai orangtua, maka kita pun harus belajar dulu untuk menyelesaikan diri sendiri, menerima apa dan bagaimana diri kita, menerima pasangan dan baru kita ekspresikan cinta kita kepada anak-anak.

 

Masya allah.....

Benar-benar belajar dari nol, membenahi diri sebagai orangtua, bismillah semoga Allah mudahkan, aamiiinnnn......

Mengajari Anak tentang Allah dan Rasulnya


Bismillahirrahmanirrahim......


Alhamdulillahirrahmanirrahim,  bersyukur sekali  sebagai orantua, masih diberikan kesempatan belajar di TAS (Ta’lim As Sunnah) Dauroh Saffanah bersama Kak Erlan dan Kak Yogi.

Di hari pertama ini yang dibahas adalah bagaimana cara mengenalkan, menanamkan dan juga mengajari anak tentang agama islam, kenapa ini penting sebagai pondasi kita? Karena ini adalah bagian dari ibadah kita sebagai orangtua. Kita sebagai orantua yang meminta amanah anak kepada  Allah iya kan? Maka sudah menjadi kewajiban kita, untuk merawat amanah tersebut dengan sebaik-baiknya sebagai bentuk pertanggungjawaban kita. Anak bisa menjadi Qurrata’ayyun, musuh, fitnah ataupun perhiasan bagi orangtuanya, sehingga secanggih apapun ilmu parenting kita, yang menjadikan anak kita sholeh adalah Allah SWT. Maka jangan henti-hentinya kita mendoakan anak,  karena yang bisa melembutkan hati anak hanyalah Allah SWT.

 Ada kaidah penting yang patut kita perhatikan, yaitu :

  • ·     Ajarkanlah sesuai dengan ahasa dan nalar anak,
  • ·     Ajarkan dari yang sederhana dan ringan

Tidak ada kata telat dalam mencari ilmu ataupun mendidik anak, jika memang sudah lewat waktunya ulangi, bertobat dan berdoa kepada Allah dengan penuh kesungguhan, bukanka Allah maha membolak balikkan hati setiap umatnya?

Mengapa kita sebagai orang tua harus mengajarkan ilmu agama  sejak dini?

  • ·    Karena hal ini disyariatkan dalam agama Islam “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapatin Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah (HR. Tirmidzi 2516)
  • ·    Karena belajar di waktu kecil adalah masa-masa keemasan, menghafal diwaktu kecil ibaratkan mengukir diatas batu.

Mengajari anak Rukun Islam sesuaikan dengan  fase usianya.

 © 0-2 tahun       : Saat usia ini anak-anak yang paling berperan adalah indra pendengaran , sehingga mengajarinya bisa dengan tasmi dan talqin.  Bisa dimulai dengan memberikan nama-nama yang baik, yang berkaitan dengan Allah agar anak-anak selalu mendengarkan nama-nama Allah, atau juga nama-nama sahabat , nama-nama yang mencintai Allah dan Rasulnya.

© 2 – 7 tahun     : Saat usia ini yang dominan adalah indra pengelihatam, sehingga mulai bisa dilakukan afirmasi positif lewat sounding, diperlihatkan dengan keteladanan, dan mulai diajarkan pelan-pelan. Apa kah makna dari syahadatan, bagaimana rukun-rukun syahadatain, dan konsekwensi syahadatain.

© 7-10 tahun      : Fase tamyis, dimana akal sudah mulai sempurna, bisa diajarkan poin-poin detail kandungan dan konsekwensi, sounding amalan-amalannya dan juga motivasi anak.

© 10 tahun          : Fase pesiapan baligh dan mukallaf, bisa mulai diberikan hukuman dan ancaman.

Dalam mengajari anak-anak tentang Allah ini, kita sebagai orangtua harus sangat memperhatikan konten materi awal yang harus didahulukan, yaitu:

  • Apa sih tujuan manusia diciptakan? Yaitu untuk mentauhidkan Allah,  rujukan: QS. Adz Dzariat : 56
  • Mengenalkan Allah dan menumbuhkkan rasa cinta kepada Allah adalah landasan sebelum kita memerintahkan anak untuk mengerjakan ibadah.
  • Orangtua harus memperhatikan tauhid anak
  • Mengenalkan Allah dan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah akan melandasi ketaatan kita dalam ibadah.

Begitulah sedikit yang tercatat, semoga dengan menulis kembali bisa mengikat ilmu yang didapat, mohon maaf jika ada persepsi yang salah ketika menerima ilmu. Semoga Allah memudahkan kita dalam mendidik anak-anak kita, melembutkan hati anak-anak kita karena hanya Allah SWT yang akan membantu meringankan jalan kita. 

Aamiiiin....

Semoga Allah SWT selalu mudahkan, semangaaattt.......


@ummiaray

Konferensi Ibu Pembaharu

Bismillahirrahmanirrahim... Berterimakasih sekali kepada panitia KIP yang sudah menyelenggarakan acara yang super duper keren, betapa kalian...