Perjalanan kelas ulat makin membuat saya seperti kelaparan dengan ilmu ilmu yang bertebaran. Parade Go Live , dan rumah-rumah yang menawarkan banyak ilmu serasa ingin di lahap semuanya, namun lagi lagi mantra " Menarik tapi Tidak Tertarik" kembali diingat kembali. Bu Septi pun mengingatkan jangan sampai kita terkena gejala FoMO (Fear of Missing Out) yang nantinya kita hanya jadi para pengumpul ilmu namun tidak menerapkannya di kehidupan, apalah artinya?
Minggu ini saya memutuskan untuk tetap di Keluarga Bermain dengan Anak (Temanda Family) karena setiap diskusinya "daging" semua dan sedang dipelajari satu satu untuk mengevalusi apakah cocok di terapkan dengan anak anak.
Ragam metode untuk tahapan tumbuh kembang anak yang dibahas adalah :
1. REA (Reggio Emilia Approach)
Dimana secara pendekatan dan nilai - nilai utama yaitu keperpusatan anak, pendekatan scientifik dan berbasis pada budaya setempat. Untuk metode REA ini tema belajarnya berangkat dari anak, dan bisa diolah menjadi penelitian untuk kemudian didokumentasikan) . Menganut kurikulum emergent, yang dibentuk berdasarkan ide dan minat yang muncul dalam diri anak. Orang tua sebagai fasilitator yangmendukung proses belajar anak
Dimana secara pendekatan dan nilai - nilai utama yaitu keperpusatan anak, pendekatan scientifik dan berbasis pada budaya setempat. Untuk metode REA ini tema belajarnya berangkat dari anak, dan bisa diolah menjadi penelitian untuk kemudian didokumentasikan) . Menganut kurikulum emergent, yang dibentuk berdasarkan ide dan minat yang muncul dalam diri anak. Orang tua sebagai fasilitator yangmendukung proses belajar anak
2. CCL
CCL (Children centered learning) , dimana pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, semua aktivitas sesuai dengan ketertarikan anak, kemampuan pribadi anak & gaya belajar anak. Orang tua sebagai fasilitator anak.
3. FBE (Fitrah Based Education)
Framework Fitrah Based Education sesuai dengan tahapan usia, dengan 8 fitrah yang dibangkitkan , yaitu fitrah keimanan (o-6th), perkembangan, belajar dan bernalar (7-10), bakat, seksualitas, estetika dan bahasa, individualitas dan sosialitas, dan fitrah jasmani
4. Islamic Montessori
Ada 6 area stimulasi bertahap, yaitu islamic student, kehidupan sehari-hari, sensori, bahasa, matematika dan alam semesta.
5. Neuroparenting
Memahami tumbuh kembang otak anak, dimana kecerdasan awal anak adalah dikendali gerak dan emosi, yang itu kemudian menjadi pondasi dasar stimulasi kecerdasan rasio anak.
Dan berdasarkan penjelasan dari para narasumber di Keluarga Temanda (Mba Rayi, Mba Restu, Mba Ken, Mba Ainun, dan juga Mba Kidung Ardha) dari semua metode diatas dapat di tarik benang merahnya, bahwa filosofinya bersifat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Yang membuat berbeda adalah kurikulumnya, dimana montessori memiliki kurikulum berdasarkan apparatusnya, REA yang bersifat emergent, sedangkan waldorf didesain tahapan perkembangan anak yang 5 aspek memiliki perkembangan sendiri- sendiri. Guru disini menetapkan materi dan cara belajar yang disesuaikan dengan perkembangan anak.
Waaah, banyak yaaa....
Saya menjadi sangat tertarik untuk mempelajarinya, dengan detail dan pada akarnya sehingga tidak hanya aplikasi tanpa tahu filosofinya apa.
CCL (Children centered learning) , dimana pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, semua aktivitas sesuai dengan ketertarikan anak, kemampuan pribadi anak & gaya belajar anak. Orang tua sebagai fasilitator anak.
3. FBE (Fitrah Based Education)
Framework Fitrah Based Education sesuai dengan tahapan usia, dengan 8 fitrah yang dibangkitkan , yaitu fitrah keimanan (o-6th), perkembangan, belajar dan bernalar (7-10), bakat, seksualitas, estetika dan bahasa, individualitas dan sosialitas, dan fitrah jasmani
4. Islamic Montessori
Ada 6 area stimulasi bertahap, yaitu islamic student, kehidupan sehari-hari, sensori, bahasa, matematika dan alam semesta.
5. Neuroparenting
Memahami tumbuh kembang otak anak, dimana kecerdasan awal anak adalah dikendali gerak dan emosi, yang itu kemudian menjadi pondasi dasar stimulasi kecerdasan rasio anak.
Dan berdasarkan penjelasan dari para narasumber di Keluarga Temanda (Mba Rayi, Mba Restu, Mba Ken, Mba Ainun, dan juga Mba Kidung Ardha) dari semua metode diatas dapat di tarik benang merahnya, bahwa filosofinya bersifat pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Yang membuat berbeda adalah kurikulumnya, dimana montessori memiliki kurikulum berdasarkan apparatusnya, REA yang bersifat emergent, sedangkan waldorf didesain tahapan perkembangan anak yang 5 aspek memiliki perkembangan sendiri- sendiri. Guru disini menetapkan materi dan cara belajar yang disesuaikan dengan perkembangan anak.
Waaah, banyak yaaa....
Saya menjadi sangat tertarik untuk mempelajarinya, dengan detail dan pada akarnya sehingga tidak hanya aplikasi tanpa tahu filosofinya apa.
Dalam satu kelurga ini saja saya sempet oleng, karena tergoda untuk icip dan bertamu ke Keluarga Porta (Portofolio Anak) , disini teman teman belajar untuk membuat bank data aktivitas anak untuk dapat . Selain itu juga sempet masuk bertamu di keluarga Manajemen Emosi, namun belum icip karena dalam 24 jam, prosentase terbesar waktu saya ada bersama anak, sehinggan ingin bermain bersama, dan belajar untuk dokumentasikan dulu. Untuk Manajemen Emosi dan Waktu yang ada di peta sepertinya harus antri dulu , walau ini juga sangat diperlukan agar aktifitas nya selalu menyenangkan tanpa ada halangan emosi dan pengaturan waktu .
#janganlupabahagia#kuliahbundacekatan#tahapanulat-ulat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar