Bismillahirrahmanirrahim.......
Alhamdulillah , perkuliahan Bunda Salihah Institut Ibu Profesional telah dimulai pekan ini, dan inilah saatnya memilih BERUBAH atau KALAH.
Untuk menjadi seorang pembaharu, maka kita harus bisa mengubah masalah menjadi tantangan, mengubah empati menjadi aksi, dan melakukan inovasi sosial untuk inovasi bersama.
Di dunia saat ini, dengan mudahnya kita mengatakan bahwa jumlah masalah lebih banyak dari jumlah solusi. Untuk itu kita perlu menambah jumlah solusi agar keadaan bisa berbalik. Caranya dengan menambah agen perubahan atau changemaker. Tentang hal ini kita tidak perlu khawatir, karena Everyone is A Changemaker, Everymother is A Changemaker. Kita hanya perlu movement, bergerak dan bergerak.
Untuk sampai pada titik tersebut, seorang ibu perlu melakukan Cognitive Emphaty yang mendalam dengan secara aktif mendengarkan dan memperhatikan masalah sosial yang terjadi di sekitarnya kemudian memikirkan solusi-solusinya.
Berikutnya ia akan melengkapi dirinya, timnya dan komunitasnya untuk berkolaborasi dalam mengajarkan solusi yang berarti. Karena Changemaker need an Ecosystem, maka sebuah teamwork akan sangat membantunya. Dampaknya pun akan membesar jika dikerjakan secara tim, dibandingkan dengan sendirian.
Ibu pembaharu juga membutuhkan New Leadership untuk mengembangkan ketahanan dan kepemimpinan dalam upaya memecahkan masalah sosial, dilengkapi dengan Creative Problem Solving Skill.
/Indikator Sukses/
Untuk menuju ke arah sana, hal pertama yang harus ditentukan adalah indikator kesuksesan yang ingin diraihnya. Di kampus Ibu Pembaharu, ini berupa indikator komunal dan personal.
Indikator komunal berlaku untuk semua mahasiswi, ditentukan oleh komunitas, yaitu:
1. Tuntas dengan minimal 7 dari 8 tantangan
2. Tuntas dengan minimal 7 dari 8 review yang ada
3. Mampu mengubah empati menjadi minimal 1 aksi untuk 1 solusi
4. Ikut berpartisipasi aktif minimal 2 dari 3 event besar di Kampus Ibu Pembaharu yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus, Oktober dan Desember 2021
5. Mampu membuat 1 portofolio aksinya dalam bentuk websites/pdf/karya digital lain
Sementara untuk indikator personal, sifatnya custom. Ini ditentukan oleh diri kita sendiri. Setelah berfikir dan merenung, saya menetapkan 4 indikator kesuksesan, yaitu:
1. Saya mampu menuntaskan membaca 1 buku tiap pekan.
2. Saya konsisten membagikan isi buku yang saya baca tiap pekan baik dalam bentuk lisan (berupa siaran live di akun media sosial) sebagai bagian dari upaya mengajak masyarakat untuk melek literasi dan mencintai aktivitas Tholabul Ilmi.
3. Saya mampu membuat resume buku yang telah dibaca.
4. Saya mampu menulis 1 artikel perjalanan saya tiap pekan.
/Problem Statement/
Sangat penting bagi kita untuk memahami persoalan apa yang sesungguhnya sedang kita hadapi. Dari sekumpulan masalah tersebut, kemudian dikelompokkan menjadi masalah pribadi, keluarga, dan lingkungan. Selanjutnya ditentukan satu masalah yang ingin diselesaikan dalam bentuk aksi nyata.
Setelah berfikir serius, setidaknya saya menemukan 12 masalah dalam hidup saat ini. Yang terbagi ke dalam masalah pribadi (5 item), masalah keluarga (3 item), dan masalah lingkungan (4 item).
Saya memilih satu masalah pribadi untuk diselesaikan terlebih dahulu. Terkait dengan salah satu passion saya di dunia literasi. Masalah tersebut adalah saya punya banyak buku (lebih dari 1000 judul), tetapi belum semuanya terbaca secara tuntas.
Hal ini sangat mengganggu, dan saya yakin inilah masalah saya. Karena ketika melihat deretan buku di rak, muncul rasa bersalah karena belum semua buku sempat terbaca secara tuntas. Selain itu, saya juga merasa gemas jika menemui persoalan di tengah masyarakat, sementara saya tidak tahu solusinya. Padahal hal tersebut ada di antara buku yang saya miliki. Keinginan membaca sampai tuntas pun selalu muncul meskipun tidak selalu terealisasi karena berbagai kesibukan. Mata berbinar dan muncul keinginan kuat untuk berbagi isinya usai membaca tuntas sebuah buku. Satu alasan lagi, suami telah mengeluarkan warning untuk tidak membeli buku lagi sebelum semua buku yang ada di rumah tuntas dibaca.
Menurut saya, masalah tersebut telah terpecahkan ketika saya bisa rutin menuntaskan membaca sebuah buku dalam periode tertentu (1 pekan tuntas 1 buku), kemudian membagikan isinya kepada orang lain, dan bisa menuliskan kembali poin penting buku (resume) dalam sebuah catatan pribadi.
/Root Cause Analysis/
Root Cause Analysis (RCA) adalah teknis analysis bertahap dan fokus pada penemuan akar penyebab suatu masalah, bukan sekedar dilihat dari gejala-gejalanya. Dikenal juga sebagai Why Why Method.
Tujuan RCA sendiri adalah untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa masalah itu bisa terjadi, dan apa yang harus dilakukan agar masalah tersebut tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar