Kamis, 29 April 2021

Menanamkan Karakter Kemandirian pada Anak

Bismillahirrahmanirrahim.....


Apa kabar semua bunda-bunda, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT yaa....

Kali ini insya allah, Ummi Array akan mencoba meresume kan kajian yang diikuti di Ta'lim As Sunnah bersama Kak Erlan Iskandar dan tim nya... 

Dan yang dibahas adalah tentang kemandirian pada anak.

Bagaimana ya kemandirian itu?

Kita ini termasuk sudah mandiri belum?

Nah, ternyata ada hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan bahwa hal tersebut  adalah bentuk ketidakmandirian seperti, tidak tuntas ketika melakukan suatu pekerjaan, suka menunda-nunda hal penting dan juga suka marah-marah.

Ternyata indikator nya cukup simple ya?

Kemandirian pada anak dimulai dari kedekatan dan kelekatan dengan orang tua, komunikasi yang baik akan menentukan tingkat kemandirian pada anak, dan ayah membawa peran yang sanagat penting pada tahapan ini karena terkait dengan kedisiplinan.

Sifat tidak mandiri ini akan membawa dampak anak menjadi suka tergantung tidak punya pendirian, insecure dan selalu ikut-ikutan agar dia diterima di lingkungannya, suka lama jika memutuskan sesuatu hal. Anak-anak yang tidak mandiri pun akan sangat butuh pengakuan dari lingkungan sekitar, bahwa mereka ingin dianggap ada, bahkan mereka ini cenderung tidak kreatif dan tidak inisiatif juga manja dan putus asa.

Hal ini berbeda dengan anak yang percaya diri, anak yang percaya diri akan yakin dengan dirinya dan mampu mengatasi apa masalah yang ada dihadapannya.

Oleh karena nya, janganlah kita “blocking” terhadap kreatifitas anak-anak, fasilitasi lah karena sejatinya ketika anak-anak mempunyai minat terhadap sesuatu berarti anak-anak ini sedang mengeksplore kemampuan dirinya untuk mandiri.

Hingga nanti suatu saat ketika perkembangan sudah optimal, kita sebagai orang tua diperbolehkan untuk mengobservasi dan kemudian mengikat beberapa cabang minat agar anak menjadi fokus, dalam hal ini orag tua berfungsi sebagai fasilitator anak untuk menentukan apa potensinya

Saat ini mari kita bahas dampak dari ketidakmandirian anak-anak yang biasanya terlihat pada anak-anak yang kemandiriannya belum terbentuk. Biasanya anak-anak ini mempunyai kecenderungan gangguan kenalakan remasak, suka sekali menentang orangtua, guru, mengganggu teman-teman disekolah, emosinya pun tidak stabil, cenderung mudah marah, mudah sedih dan juga mudah tersinggung, daya tahan anakpun menjadi lemah.

·   Nah untuk memupuk faktor kemandirian ini, kita sebagai orangtua bisa melakukan hal-hal dibawah:

  • Cinta dan kepercayaan sebagai bentuk dari kelekatan orang tua dan anak
  • Komunikasi efektif dari orang tua – anak
  • Apresiasi, ingat apresiasi ini tidak hanya jika anak berprestasi, tanpa      prestasipun harus diapresiasi dalam bentuk motivasi dan semangat.            Jangan lupa setiap aprresiasi di sandarkan dan dikembalikanlagi ke Allah, agar anak tidak sombong.
  • Tujuan / target dengan memberikan pijakan yang kokoh tentang kemandimandiri·         
  • Memupuk skill anak dengan menstimulasi keterampilan anak
  • Sounding dan help, dimana ada kalanya orang tua berperan sebagai motivator agar anak mau berusaha dengan usahanya sendiri, namun jika sudah berusaha dan masih kesulitan  kita bisa membantunya sedikit demi sedikit.

Ciri-ciri anak yang mandiri adalah sebagai berikut:

1. Kreatif dan exploratif , sehingga anak bebas bergerak

2. Emosinya lebih stabil dan tenang, dimana kualitas pengendalian dirinya seimbang dan mudah untuk kembali ke kondisi normal

3.  Mempunyai harga diri percaya diri sehingga berani untuk menunjukkan dirinya dan menyampaikan apa pendapatnya

4. Disipin, konsisten dan teratur

5. Bertanggungjawab dan tuntas jika mengerjakan sesuatu

6. Pergaulannya luas dan mudah berteman, sehingga mudah berbagi , kolaborasi , respek dan menghargai orang lain.

Teknik membangun kemandirian anak adalah dimulai dengan TRUST pada usia 0-6 tahun, dimana kesempatan dan kepercayaan yang dibangun, dahulukan cinta dahulu baru kepercayaan (cinta, sabar, dan kepercayaan), sounding , selalu mengarahkan dan tidak letih mendoakan. Kemudian diikuti denga ALWAYS LISTEN FIRST, dengarkan lah apa sebenernya apa yang diinginkan anak, karena apa yang kita lihat bisa jadi bukan apa yang dimaksud oleh anak, sehingga keterampilan anak untuk berkomunikasi pun akan terasah. Dan yang terakahir adalah TARGET-APRESIASI-SOUNDING, kenapa? karena jangan sampai keluarga yang saat ini kita bina ini hidupkan mengalir begitu saja, kita hars buat peraturan di rumah, tujuan keluarga kita sehingga kita akan menjadi semakin teratah mau dibawa kemana kapal kita berlayar bersama. 

Dan hal ini akan semakin mengasah anak-anak menjadi pribadi tangguh untuk menjadi penerus peradaban muslim di dunia. 

Aamiin ya rabbal alamin...


Semoga bermanfaaat, tetap semangat dan selalu memohon pertolongan Allah SWT, aaamiinn.....

·    

 

·         

·         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konferensi Ibu Pembaharu

Bismillahirrahmanirrahim... Berterimakasih sekali kepada panitia KIP yang sudah menyelenggarakan acara yang super duper keren, betapa kalian...